<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Watu Corporation</title>
	<atom:link href="http://watu.co.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://watu.co.id</link>
	<description>As Solid As A Stone … That is Our Team</description>
	<lastBuildDate>Thu, 08 Mar 2012 02:20:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>in</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Kerjasama Coral dengan PT Pembangunan Perumahan (persero) Tbk DVO III</title>
		<link>http://watu.co.id/cooperation-coral-pt-pembangunan-perumahan-persero-tbk-dvo-iii/</link>
		<comments>http://watu.co.id/cooperation-coral-pt-pembangunan-perumahan-persero-tbk-dvo-iii/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Mar 2012 02:10:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coral]]></category>
		<category><![CDATA[Interior]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://watu.co.id/?p=98</guid>
		<description><![CDATA[On December 2011, CORAL-Furniture Interior-Art Gallery has teamed up with PT Construction of Housing (Persero) Tbk DVO III for workmanship interior room furniture, a packet-STORY BUILDING ACADEMIC UNY 3 units. The project includes the construction interior &#38; furniture room admissions &#8230; <a href="http://watu.co.id/cooperation-coral-pt-pembangunan-perumahan-persero-tbk-dvo-iii/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">On December 2011, CORAL-Furniture Interior-Art Gallery has teamed up with PT Construction of Housing (Persero) Tbk DVO III for workmanship interior room furniture, a packet-STORY BUILDING ACADEMIC UNY 3 units. The project includes the construction interior &amp; furniture room admissions (standard type, family and VIP Rooms), Ballroom and Recepcionist.</p>
<p style="text-align: justify;">see <a title="http://coral.co.id/event/" href="http://coral.co.id/event/">coral.co.id/event</a> for complete gallery<span id="more-98"></span></p>
<p><a href="http://watu.co.id/wp-content/uploads/2012/03/receptionist1.jpg"><img class="aligncenter" title="Receptionist UNY" src="http://watu.co.id/wp-content/uploads/2012/03/receptionist1.jpg" alt="Receptionist UNY" width="640" height="480" /></a><a href="http://watu.co.id/wp-content/uploads/2012/03/1_FAMILY-CAM01.jpg"><img class="aligncenter" title="UNY Hotel - Family room" src="http://watu.co.id/wp-content/uploads/2012/03/1_FAMILY-CAM01-1024x768.jpg" alt="UNY Hotel - Family room" width="584" height="438" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://watu.co.id/cooperation-coral-pt-pembangunan-perumahan-persero-tbk-dvo-iii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aplikasi Hydraq pada Produksi Tapioka</title>
		<link>http://watu.co.id/aplikasi-hydraq-pada-produksi-tapioka/</link>
		<comments>http://watu.co.id/aplikasi-hydraq-pada-produksi-tapioka/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Feb 2012 01:53:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://watu.co.id/?p=81</guid>
		<description><![CDATA[Ekspor singkong Indonesia dalam bentuk gaplek (keratan ubi singkong yang dikeringkan), tepung gaplek ataupun tepung tapioka cukup menyakinkan dan dapat bersaing  seperti gaplek Indonesia yang sangat terkenal di mancanegara, terutama di Masyarakat Eropa sehingga harganya mampu bersaing dengan produk sejenis &#8230; <a href="http://watu.co.id/aplikasi-hydraq-pada-produksi-tapioka/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ekspor singkong Indonesia dalam bentuk gaplek (keratan ubi singkong yang dikeringkan), tepung gaplek ataupun tepung tapioka cukup menyakinkan dan dapat bersaing  seperti gaplek Indonesia yang sangat terkenal di mancanegara, terutama di Masyarakat Eropa sehingga harganya mampu bersaing dengan produk sejenis dari beberapa negara di Afrika, juga dari India dan Thailand, yaitu rata-rata dengan harga 65-75 dollar AS/ton, kemudian  meningkat sampai 130 dollar AS/ton, pada hal produk yang sama dari India, Thailand, dan apalagi dari negara-negara di Afrika, hanya mencapai 60 dollar AS/ton dan tidak lebih dari 80 dollar AS/ton  (H. Unus Suriawiria , 2002).<span id="more-81"></span> Pada tahun 1980-an kualitas tepung tapioka Indonesia yang semula berada pada jajaran atas (Pharmaceutical grade) jatuh menjadi kualitas terendah. Hal ini dikarenakan tingginya kandungan residu (sisa) pestisida dalam tepung tapioka yang akan sangat berbahaya bagi kesehatan. Menurut H Unus Suriawiria (2002) hal ini dikarenakan penggunaan air sawah dalam pengolahan tepung tapioka. Sebenarnya didalam proses penanaman sampai pemanenanya, petani singkong pada umumnya tidak menggunakan pestisida atau Insektisida. Lokasi pabrik tapioka yang biasanya berada di sekitar persawahan, sehingga air sawah yang banyak mengandung pestisida seringkali digunakan untuk proses pengolahan tepung tapioka. Kalau dihitung secara teoritis penggunaaan pestisida, rata-rata 2 kilogram per ha sawah, maka sisa yang terdapat didalam air sawah, sekitar 150-200 ppm (part per million atau 1 mg per liter). Sehingga akan menjadi sangat wajar jika sisa / residu yang tertinggal dalam  akan terdapat antara 20-35 ppm pada tepung tapioka, sedangkan persyaratan WHO harus  kurang dari 0.05 ppm.</p>
<p style="text-align: justify;">Perkembangan ekspor ubi kayu dalam bentuk kering selama tahun 1990 sampai dengan tahun 1998 berhasil mencapai eksport terbesar di tahun 1990, sebesar 697.3 ton untuk gaplek ,570.5 ton untuk pelet, 3.3 ton untuk bentuk lainnya serta 6.7 ton untuk tepung tapioka. Setelah tahun 1990 eksport ubi kayu kering Indonesia mengalami penurunan hingga tahun 1998 yang hanya mencapai 194.6 ton untuk gaplek, 24.8 ton untuk pelet serta 2 ton untuk bentuk lainnya. Berbeda dengan ekspor gaplek dan jenis ubi kayu kering lainnya, total ekspor tepung tapioka Indonesia masih terus meningkat pada peiode tersebut (1990-1997), dan mencapai 82.2 ton dengan nilai sebesar US $ 13.98 juta pada tahun 1993 (BPS, 1998 dalam Bank Indonesia, 2002 )<br />
Meskipun ekspor tapioka merupakan salah satu komoditi yang potensial, proses pengolahan tepung tapioka dengan metode yang sekarang masih  memiliki beberapa kelemahan dan membutuhkan air bersih yang cukup banyak. Untuk ubi kayu sebanyak 1 ton yang akan diolah menjadi tapioka kasar dibutuhkan air sebanyak 10.5 m3 dan menghasilkan limbah cair sebanyak 10.8 m3 . Limbah padat berupa kulit dan kotoran yang dihasilkan sebanyak 100 kg, dan ampas basah (onggok) yang dihasilkan sebanyak 400 kg untuk setiap ton singkong yang diolah menjadi tepung tapioka kasar (PDII-LIPI, 2000). Untuk tapioka yang lebih halus dihasilkan onggok sekitar 75 % dari bahan mentahnya (Intisari, 1998). Menurut Tabrany dkk. (2002) industri tapioka di Indonesia menghasilkan 1,2 juta ton onggok pertahun, ini adalah ,masalah pelik yang harus segera di carikan jalan keluarnya.</p>
<p style="text-align: justify;" align="justify">Limbah cair Industri taoioka dengan menggunakan metode pengolahan yang ada sekarang ini memiliki nilai BOD antara 15.000 hingga 25.000 mg/l. Nilai BOD5 ini jauh berada diatas baku mutu limbah cair industri tapioka 150 mg/L (Kep-51/MENLH/10/1995). Besarnya limbah padat dan cair  serta besarnya jumlah air yang dibutuhkan untuk pengolahan ubi kayu menjadi tapioka menunjukkan bahwa proses pengolahan tepung belumlah efektif dan sangat berpotensi untuk mencemari dan mengurangi daya dukung lingkungan. Untuk itu sangatlah perlu kiranya dikembangkan metode pengolahan tepung tapioka yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Sehingga akan memberikan nilai ekonomis yang lebih besar. Adi Mulyanto dan Titiresmi (2000) telah melakukan pengolahan terhadap buangan tapioka (End of Pipe). Dalam makalahnya yang berjudul ‘Implementation of Anaerobic Process on Waste Water From Tapioca Starch Industries’ ,  objek dari penelitian mereka ini adalah mempelajari efek dari air buangan industri tapioka sebagai substrat pada anaerobic fixed bed digester untuk menghasilkan biogas sekaligus memperhatikan ferfoma fixed bed digester tersebut. Hasil dari peneltian ini menunjukkan bahwa nilai substansi organik dalam influen adalah sekitar 10.062 ppm dan 5.649 ppm dalam  COD dan BOD. Efisiensi degradasi 76% dan 95.8 % dalam COD dan BOD. Kandungan methane dalam biogas antara 53.5 % – 71 %. Rata-rata produksi biogas adalah 1.2 m3 /m3 air buangan.</p>
<p style="text-align: justify;" align="justify">Proses pengolahan diatas adalah salah satu bentuk pengolahan di akhir prodeksi atau yang dikenal dengan term END OF PIPE, sehingga akan lebih baik lagi apabila dikembangkan suatu teknologi yang bersifat minimalisasi limbah dengan penangan di awal. Untuk kasus produksi tepung tapioka ini, selain masalah pada proses pengolahan yang ada sekarang ( teknologinya ), juga permasalahan tingginya kandungan pestisida dan cyanide dalam tepung seperti yang telah diuraikan diatas, lamanya proses pengendapan yang berkisar 10 jam-an (PDII- LIPI, 2000) mengakibatkan beberapa zat terlarut yang tidak dikehendaki kehadirannya dalam tepung tapioka ( seperti protein dan Lemak ) menjadi tergabung. Keberadaan  zat-zat ini ke dalam tepung dimungkinkan melalui mekanisme pemerangkapan, dimana zat terlarut tersebut mengikuti desakan pati  sehingga ikut mengendap dan tercampur dengan endapan pati,dan  mekanisme absorbsi, dimana zat  terlarut tersebut diabsorbsi oleh pati sehingga menyatu dan ikut terendapkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://watu.co.id/aplikasi-hydraq-pada-produksi-tapioka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengenalan MATOS</title>
		<link>http://watu.co.id/pengenalan-matos/</link>
		<comments>http://watu.co.id/pengenalan-matos/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Feb 2012 01:48:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://watu.co.id/?p=78</guid>
		<description><![CDATA[PROFIL PRODUK Matos adalah bahan stabilisasi dan pemadatan (solidifikasi) tanah dan juga sebagai zat additif untuk mempertahankan fungsi tanah terutama kesuburannya, produk ini berupa material serbuk halus/ tepung terdiri dari komposisi logam dan garam/ mineral anorganik dan lain-lain, bersumber dari &#8230; <a href="http://watu.co.id/pengenalan-matos/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>PROFIL PRODUK</h3>
<p style="text-align: justify;">Matos adalah bahan stabilisasi dan pemadatan (solidifikasi) tanah dan juga sebagai zat additif untuk mempertahankan fungsi tanah terutama kesuburannya, produk ini berupa material serbuk halus/ tepung terdiri dari komposisi logam dan garam/ mineral anorganik dan lain-lain, bersumber dari air laut, aman untuk makhluk hidup dan ramah lingkungan.<span id="more-78"></span>FUNGSI MATOS</p>
<p style="text-align: justify;">Apabila partikel tanah kita lihat secara mikroskopis, maka pada permukaan tanah tersebut terdapat lapisan air yang tipis, kira-kira ketebalannya 0,5 m. Lapisan ini memiliki kekuatan yang luar biasa, kira-kira 2.000 kg untuk setiap 1 cm2, untuk memindahkan lapisan air ini, dibutuhkan energi yang besar. Sifat air yang melekat ini agak berbeda dengan air biasa yang kita ketahui. 1 cc = 1 gram pada suhu 40C untuk air normal, tetapi air ini adalah 1 cc = 1, 4 gram. Air ini dapat bergerak dengan arah horizontal tetapi tidak dapat bergerak secara vertikal. Air inilah yang menghambat semen menjadi keras. Terbentuknya humus adalah dengan melarutnya tanaman-tanaman yang sudah mati kedalam air yang menempel pada permukaan tanah dan humus (humic acid/ RCOOH) ini menghambat terjadinya kontak antara kation kalsium (Ca++) pada semen dan anion (-) dari partikel-partikel tanah.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada saat penggunaan MATOS, kita harus melarutkannya ke dalam air pada tingkat<br />
kelarutan (molaritas) 10%. Beragamnya komponen MATOS memperlemah fungsi negative dari humus dan akan menurunkan kadar humus itu sendiri. Kemudian, kation kalsium (Ca++) pada semen dapat menempel langsung dipermukaan tanah.</p>
<p>MATOS melarutkan asam humus (humic acid) yang terdapat di dalam tanah serta menghilangkan efek penghambatan ikatan ion, sehingga partikel tanah menjadi lebih mudah bermuatan ion negative (anion), sehingga kation Ca++ dapat mengikat langsung dengan mudah pada partikel tanah.</p>
<p style="text-align: justify;">MATOS membantu menyuplai lebih banyak ion pengganti dan membentuk senyawa<br />
asam alumunium silica sehingga membentuk struktur sarang lebah 3 dimensi diantara partikel-partikel tanah.<br />
Kalau pencampuran semen yang mengandung sulfur (SO3) dengan tanah tidak melibatkan MATOS, maka ketika bercampur dengan air tanah atau terkena air hujan, akan menghasilkan sulfuric acid yang menyebabkan terjadinya keretakan, dimana reaksi kimianya sebagai berikut : SO3 + H20 = H2SO4.<br />
Hal ini akan berbeda jika dilibatkan MATOS, dimana pada saat terjadi pengikatan semen pada partikel tanah dan mengering karena reaksi dehidrasi, akan terbentuk kristal-kristal yang muncul diantara campuran semen yang mengikat partikel tanah, kristal-kristal tersebut menyerupai jarum-jarum, secara intensif akan bertambah banyak<br />
dan membesar yang nantinya membentuk rongga-rongga mikron yang bisa menyerap air (porositas), sehingga tidak akan terjadi keretakan.</p>
<h3>APLIKASI MATOS</h3>
<ol>
<li>Untuk Meningkatkan Kualitas Lapisan Tanah<br />
1. Pembuatan jalan tanah, landasan pacu pesawat terbang dan lahan parkir.<br />
2. Pembentukan bantalan rel kereta.<br />
3. Pembuatan areal lahan yang luas di kawasan perumahan (tempat bermain dan taman).<br />
4. Pembuatan lantai gudang dan pabrik.<br />
5. Pembuatan paving untuk pejalan kaki/ trotoar dan kendaraan bermotor.<br />
6. Pembentukan tanah padat untuk areal fasilitas olah raga, seperti lapangan tenis, sepeda balap<br />
dan jalan setapak di lapangan.<br />
7. Konstruksi sub base jalan untuk lapisan dibawah aspal hotmix.<br />
8. Konstruksi sub base jalan pada areal jalan yang tergenang air atau di rawa.</li>
<li>Untuk Pekerjaan Pondasi Tanah<br />
1. Menstabilkan areal pondasi tanah yang labil.<br />
2. Untuk menstabilkan tanah dibawah lantai kerja pada pekerjaan struktur bangunan.<br />
3. Pondasi tanah untuk pekerjaan pembangunan tower, tiang listrik, tiang telepon, rambu jalan<br />
dan patok.<br />
4. Memperbaiki retakan tanah akibat gempa.</li>
<li>Untuk Pembuatan Lapisan Tanah Yang Tidak Kedap Air (Resapan)<br />
1. Perbaikan lapisan dasar sungai, danau dan rawa.<br />
2. Pemadatan jalan yang rusak akibat erosi oleh air dan banjir.<br />
3. Menstabilkan lereng sekaligus menyeimbangkan pertumbuhan tanaman merambat dan rumput di atasnya (cover crop).<br />
4. Perbaikan lapisan permukaan tanah yang berdebu.</li>
<li>Untuk Pembuatan Lapisan Tanah Yang Kedap Air<br />
1. Pembuatan bak penampung air/ reservoir.<br />
2. Pembentukan lapisan tanah kedap air pada tempat penampungan sampah.<br />
3. Pembuatan kolam ikan dan tambak udang.<br />
4. Pembuatan tempat penampungan limbah cair (IPAL).</li>
</ol>
<h3>KEUNGGULAN MATOS</h3>
<ol>
<li>Memiliki kekuatan menahan beban sesuai yang dibutuhkan.</li>
<li>Memiliki tingkat porositas/ daya resap untuk air yang baik.</li>
<li>Anti retak.</li>
<li>Hemat waktu, sangat mudah dalam pengerjaannya, sekalipun dengan cara manual.</li>
<li>Hemat biaya konstruksi dan perawatan, relatip lebih murah dibandingkan dengan cara konvensional.</li>
<li>Sangat efektif dan efisien, terutama digunakan di daerah yang sulit batu dan pasir sebagai bahan baku LPA dan LPB.</li>
<li>Kesat/tidak licin dan tidak berdebu.</li>
<li>Semakin kena air konstruksi semakin kokoh.</li>
<li>Terbuat dari bahan air laut (inorganik metal salt).</li>
<li>Ramah lingkungan, mengikat Ca++, menetralisir zat racun.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://watu.co.id/pengenalan-matos/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hydraq</title>
		<link>http://watu.co.id/hydraq/</link>
		<comments>http://watu.co.id/hydraq/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Feb 2012 07:28:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hydraq]]></category>
		<category><![CDATA[R & D]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://watu.co.id/?p=63</guid>
		<description><![CDATA[UNIT PROSES FLOTASI UDARA TERLARUT (DISSOLVED AIR FLOTATION) Proses DAF banyak digunakan untuk menyisihkan bahan-bahan yang mengapung seperti minyak dan lemak agar tidak mengganggu proses pengolahan berikutnya. DAF juga digunakan sebagai cara penyisihan bahan tersuspensi (clarification) atau pemekatan lumpur endapan &#8230; <a href="http://watu.co.id/hydraq/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="gt-res-wrap">
<div id="gt-res-content">
<div dir="ltr">
<h2>UNIT PROSES FLOTASI UDARA TERLARUT (DISSOLVED AIR FLOTATION)</h2>
<p style="text-align: justify;">Proses DAF banyak digunakan untuk menyisihkan bahan-bahan yang mengapung seperti minyak dan lemak agar tidak mengganggu proses pengolahan berikutnya. DAF juga digunakan sebagai cara penyisihan bahan tersuspensi (clarification) atau pemekatan lumpur endapan (sludge thickening) dengan memberikan aliran udara ke atas (air flotation). ADVANCE DAF adalah paket pengolahan air limbah yang didasarkan pada teknologi Dissolved Air Flotation (DAF). Dalam prosesnya, gelembung mikro (20 – 50 ?m) yang dihasilkan dari sistem produksi penjenuhan air-udara direaksikan dengan partikel tersuspensi dalam air limbah sehingga mengangkat partikel tersuspensi ke permukaan air untuk dipisahkan dengan sistem skimmer.</p>
</div>
<div dir="ltr">
<p style="text-align: justify;"><span id="more-63"></span></p>
<div style="text-align: justify;">Dalam unit DAF konvensional, pompa centrifugal menyedot air dan udara dari kompresor, mencampurnya kemudian mentransfer ke tangki flotasi.  Udara berlebih yang tidak terlarut dalam air dilepaskan di tangki separasi udara. Sementara, air tetap berada di tangki tekan untuk beberapa waktu dengan tujuan untuk melarutkan udara dalam air. Hal ini menyebabkan ukuran tangki tekan berpengaruh terhadap proses. Sistem DAF yang kami tawarkan, air dan udara dicampur dalam aliran turbulen. Aliran turbulen membantu udara untuk larut dalam air secara efisien tanpa tekanan tambahan. Sistem DAF yang kami tawarkan mampu mencapai “extremely high air dissolution ratio” yakni lebih dari 90% pada 0.4 MPa (lebih tinggi dibanding unit DAF konvensional).</div>
<p>Unit DAF konvensional terdiri dari:</p>
<ul>
<li>Pompa air</li>
<li>Kompresor udara</li>
<li>Tangki tekan</li>
<li>Bak flotasi</li>
</ul>
<p>Kekurangan Unit DAF Konvensional :</p>
<ul>
<li>Biaya operasi mahal (banyak unit mengkonsumsi energi listrik. Mis. Kompressor udara)</li>
<li>Bekerja dengan tekanan tinggi (tangki tekan)</li>
<li>Efisiensi gelembung mikro kecil (tergantung dengan tekanan udara dan air)</li>
<li>Ukuran unit besar</li>
<li>Operasi unit DAF lebih komplek</li>
</ul>
<p>Kelebihan unit DAF yang kami tawarkan :</p>
<ul>
<li>Tidak memerlukan kompresor</li>
<li>Tidak memerlukan tangki tekan (tidak bekerja dengan tekanan tinggi)</li>
<li>Ukuran unit lebih kompak/kecil (1/5 dari unit DAF konvensional)</li>
<li>Konsumsi energi listrik lebih rendah</li>
<li>Operasi unit DAF lebih mudah, sederhana</li>
</ul>
<p>Beberapa kelebihan dari Sistem DAF kami :</p>
<ul>
<li>Ukuran dari gelembung mikro yang dihasilkan sangat kecil (20-50 mikron). Meningkatkan efisiensi unit DAF</li>
<li>Sistem DAF kami tidak memerlukan waktu operasi yang lama dalam memproduksi gelembung mikro.</li>
<li>Konventional DAF, operasi start dan stop unit memerlukan waktu serta lebih komplek untuk segera memproduksi gelembung mikro.</li>
<li>Sistem DAF yang kami tawarkan, lebih kompak dari segi ukuran sehingga tidak memakan banyak ruang.</li>
<li>Dibandingkan dengan unit DAF konvensional, unit DAF kami hanya berukuran ±  1/5 ukuran unit DAF konvensional.</li>
<li>Biaya maintenance dari unit DAF yang kami tawarkan, hanya energi listrik untuk pompa saja.</li>
<li>Dibandingkan dengan DAF konvensional yang memerlukan listrik untuk pompa, kompresor, perbaikan kompresor dan tangki tekan.</li>
</ul>
<p>Pengolahan air limbah :</p>
<ul>
<li>Pulp and Paper sludge,</li>
<li>Factory exhaust water,</li>
<li>Kitchen waste water,</li>
<li>Bleaching waste water,</li>
<li>Coffee waste water,</li>
<li>Paint booth waste water,</li>
<li>Egg washing waste water,</li>
<li>Car washing waste water,</li>
<li>Tapioca Process and Waste water,</li>
<li>Rumah Potong Hewan (RPH).</li>
</ul>
</div>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://watu.co.id/hydraq/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengenalan Bioremediasi</title>
		<link>http://watu.co.id/introducing-bioremediation/</link>
		<comments>http://watu.co.id/introducing-bioremediation/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Feb 2012 04:54:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bioremediation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://watu.co.id/?p=47</guid>
		<description><![CDATA[Setiap tahun kebutuhan minyak bumi  terus mengalami peningkatan  seiring dengan tingginya kebutuhan energi sebagai akibat kemajuan  teknologi dan kebutuhan  hidup manusia, sehingga potensi pencemaran oleh minyak bumi juga meningkat. Tumpahan minyak dan kebocoran pipa dalam jumlah   tertentu   dengan   luas   dan  &#8230; <a href="http://watu.co.id/introducing-bioremediation/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="text-align: justify;">Setiap tahun kebutuhan minyak bumi  terus mengalami peningkatan  seiring dengan tingginya kebutuhan energi sebagai akibat kemajuan  teknologi dan kebutuhan  hidup manusia, sehingga potensi pencemaran oleh minyak bumi juga meningkat. Tumpahan minyak dan kebocoran pipa dalam jumlah   tertentu   dengan   luas   dan   kondisi   tertentu,  apabila   tidak   dikendalikan   atau ditanggulangi  dengan  cepat  dan  tepat  dapat  mengakibatkan  terjadinya  suatu malapetaka “pencemaran lingkungan oleh minyak” yaitu kualitas  lingkungan tersebut turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya.<span id="more-47"></span></span></p>
<article id="post-270">
<p style="text-align: justify;">Tanah   yang   terkontaminasi   minyak   tersebut   dapat   merusak   lingkungan   serta menurunkan estetika. Lebih dari itu tanah yang terkontaminasi limbah minyak dikategorikan sebagai  limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) sesuai dengan Kep. Menteri Linkungan Hidup 128 Tahun 2003. Oleh  karena  itu  perlu  dilakukan  pengelolaan  dan  pengolahan  terhadap  tanah  yang terkontaminasi  minyak.  Hal  ini  dilakukan  untuk  mencegah  penyebaran  dan  penyerapan minyak kedalam tanah.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk menangani tanah yang terkontaminasi  oleh minyak  tersebut, PT. WATUKALI CAPITA CIPTAMA memiliki strain bakteri ini dikembangkan dari bakteri pendegradasi hidrokarbon di tanah dan strain bakteri ini telah dikembangkan dan mampu mendegradasi hidrokarbon di air laut. Berdasarkan strain bakteri yang di miliki, untuk menangani lahan baik di darat maupun di laut yang terkontaminasi, kami menawarkan sebuah proses pengolahan lahan yang tercemar tersebut dengan  “ Teknologi Bioremediasi “.</p>
<p><strong>Teknologi</strong><strong> Bioremediasi</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Upaya pengolahan limbah B3 baik di darat (tanah dan air tanah) ataupun di laut telah banyak dilakukan dengan menggunakan tehnik ataupun metoda konvensional dalam mengatasi pencemaran seperti dengan cara membakar (incinerasi), menimbun (landfill), menginjeksikan kembali sludge keformas minyak (slurry fracture injection) dan memadatkan limbah (solidification). Teknologi-teknologi ini dianggap tidak efektif dari segi biaya (cost effective technology), waktu (time consuming) dan juga keamanan (risk). Bioremediasi didefinisikan sebagai proses penguraian limbah organik/anorganik polutan secara biologi dalam kondisi terkendali dengan tujuan mengontrol, mereduksi atau bahkan mereduksi bahan pencemar dari lingkungan. Kelebihan teknologi ini ditinjau dari aspek komersil adalah relatif lebih ramah lingkungan, biaya penanganan yang relatif lebih murah dan bersifat fleksibel. Teknik pengolahan limbah jenis B3 dengan bioremediasi umumnya menggunakan mikroorganisme (khamir, fungi, dan bakteri) sebagai agen bioremediator. Pendekatan umum yang dilakukan untuk meningkatkan kecepatan biotransformasi ataupun biodegradasi adalah dengan cara:</p>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Seeding, atau mengoptimalkan populasi dan aktivitas mikroba indigenous (bioremediasi instrinsik) dan/atau penambahan mikroorganisme exogenous (bioaugmentasi) dan</li>
</ul>
<ul>
<li style="text-align: justify;">Feeding, atau dengan memodifikasi lingkungan dengan penambahan nutrisi (biostimulasi) dan aerasi (bioventing). Penanganan bioremediasi dapat dilakukan secara in situ ataupun ex situ, faktor-faktor penting untuk menjamin kondisi mikroorganisma dapat tumbuh dan berkembangbiak adalah ketersediaan oksigen, kandungan nutrisi, pH dan kelembaban. Kelebihan spesifik dari senyawa hidrokarbon dibanding bahan pencemar lain (ex. Logam berat) adalah penggunaannya sebagai sumber karbon sebagai pembentuk biomassa dan sumber energi untuk melangsungkan metabolisme oleh mikroorganisma. Nitrogen dan Phosphore adalah nutrisi utama bagi organisme dan didalam air laut kedua unsure ini adalah faktor pembatas pertumbuhan mikroorganisma.</li>
</ul>
<p><strong>Penanggulangan Tumpahan Minyak di Laut</strong></p>
<p>Beberapa teknik penanggulangan tumpahan minyak diantaranya:</p>
<ol>
<li>In-situ burning,</li>
<li>Penyisihan secara mekanis,</li>
<li>Bioremediasi,</li>
<li>Penggunaan sorbent</li>
<li>Penggunaan bahan kimia dispersan.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Setiap teknik ini memiliki laju penyisihan minyak berbeda dan hanya efektif pada kondisi tertentu.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>In-situ burning</strong> adalah pembakaran minyak pada permukaan air sehingga mampu mengatasi kesulitan pemompaan minyak dari permukaan laut, penyimpanan dan pewadahan minyak serta air laut yang terasosiasi, yang dijumpai dalam teknik penyisihan secara fisik. Cara ini membutuhkan ketersediaan booms (pembatas untuk mencegah penyebaran minyak) atau barrier yang tahan api.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Cara kedua yaitu penyisihan minyak secara mekanis</strong> melalui dua tahap yaitu melokalisir tumpahan dengan menggunakan <em>booms</em> dan melakukan pemindahan minyak ke dalam wadah dengan menggunakan peralatan mekanis yang disebut<em>skimmer.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Cara ketiga adalah bioremediasi</strong> yaitu mempercepat proses yang terjadi secara alami, misalkan dengan menambahkan nutrien, sehingga terjadi konversi sejumlah komponen menjadi produk yang kurang berbahaya seperti CO2 , air dan biomass.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Cara keempat dengan menggunakan sorbent</strong> yang bisa menyisihkan minyak melalui mekanisme adsorpsi (penempelan minyak pada permukaan sorbent) dan absorpsi (penyerapan minyak ke dalam sorbent). Sorbent ini berfungsi mengubah fasa minyak dari cair menjadi padat sehingga mudah dikumpulkan dan disisihkan. Sorbent harus memiliki karakteristik hidrofobik, oleofobik dan mudah disebarkan di permukaan minyak, diambil kembali dan digunakan ulang</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Cara kelima dengan menggunakan dispersan kimiawi</strong> yaitu dengan memecah lapisan minyak menjadi tetesan kecil (droplet) sehingga mengurangi kemungkinan terperangkapnya hewan ke dalam tumpahan. Dispersan kimiawi adalah bahan kimia dengan zat aktif yang disebut surfaktan (berasal dari kata : surfactants = surface-active agents atau zat aktif permukaan).</p>
<p style="text-align: justify;">Peluang kedepan adalah pengembangan green business yang berbasis pada teknologi bioremediasi dengan system one top solution (close system) dan dengan pendekatan multiproses remediation technologies, artinya pemulihan (remediasi) kondisi lingkungan yang terdegradasi dapat diteruskan sampai kepada kondisi lingkungan seperti kondisi awal sebelum kontaminasi ataupun pencemaran terjadi. Usaha mencapai total grenning program ini dapat dilanjutkan dengan rehabilitasi lahan dengan melakukan kegiatan phytoremediasi dan penghijauan (vegetation establishement) untuk lebih efektif dalam mereduksi, mengkonrol atau bahkan mengeliminasi B3 hasil bioremediasi kepada tingkatan yang sangat aman lagi buat lingkungan. Dengan keseluruhan rangkaian proses dari mulai limbah dikeluarkan, bioremediasi, phytoremediasi dan pembentukan vegetasi adalah greening program yang merupakan bentuk pengelolaan limbah B3 secara terpadu (integrated waste management). Biasanya greening program juga merupakan salah satu bentuk aktifitas community development dari perusahaan-perusahan. Untuk wilayah pesisir dan pantai greening program dapat berupa penanaman kembali bibit mangrove dan vegetasi pantai lain ataupun program lain seperti artificial reef, fish shelter ataupun reef transplantation.</p>
</article>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://watu.co.id/introducing-bioremediation/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

